Al-Qur’an kitab suci yang terjaga

Kita sebagai umat muslim sangat paham bahwa Al-Qur’an turun kepada Rosulullah SAW dengan cara berangsur-angsur selama dalam kurun waktu dua puluh tahun dan mengiringi berbagai peristiwa, tidak sekaligus dalam bentuk satu paket kitab. Hal inilah yang sejak dulu sampai sekarang dipertanyakan oleh orang-orang kafir saat itu dan orang-orang yang memusuhi islam sampai sekarang ini, sebagaimana di sitir dalam Al-Qur’an surat Al-Furqaan ayat 32-33 yang artinya :” Dan orang-orang kafir berkata, mengapa Al_qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, malainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.”

Allah SWT menyampaikan ayat demi ayat kepada Rosulullah SAW malaui malaikat Jibril, disamping menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an langsung kepada Rosulullah, malaikat Jibril juga turun untuk menyimak kembali ayat-ayat yang telah disampaikan kepada Rosulullah SAW sekali dalam setahun khusus untuk menyimak ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diturunkanya dalam kurun waktu setahun tadi. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra. “ Rosulullah adalah orang yang paling dermawan. Akan tetapi kedermawanan beliau akan mencapai puncaknya dalam bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril menemuinya (dalam bulan tersebut) Jibril menemui Rosulullah pada setiap malam guna mengajarkan Al-Qur’an (menyimak kembali bacaan dan hafalan Rosulullah SAW.).

Jibril melakukan hal tersebut agar ayat-ayat Al-Qur’an lebih mantap dan merasuk kedalam hati dan pikiran Rosulullah SAW, sehingga beliau tidak akan lupa, dimana hal ini merupakan realisasi dari janji Allah SWT dalam firmannya “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa”. (Al-A’laa :6)
Al-Qur’an merupakan kitab suci dan mukjizat Illahi yang abadi yang kedatangannya diiringi dengan tantangan kepada seluruh makhluk , terutama bangsa arab saat itu dan bahkan seluruh manusia sampai saat ini bagi yang meragukan Al-Qur’an. Keindahan gaya bahasa, kehebatan struktur kalimatnya bahkan kecermatan rangkaian kandungannya tidak dapat tertandingi oleh karya manusia sampai sekarang bahkan sampai hancurnya alam semesta ini. Dalam surah Al-Baqarah ayat 23-24 Allah SWT brfirman yang artinya :

“Dan jika kamu meragukan Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan pasti tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

Sampai saat ini tidak ada ahli sastrapun yang karyanya seindah Al-Qur’an bahkan jika para ahli sastra sedunia berkumpulpun tidak akan dapat menghasilkan karya sebaik Al-Qur’an baik sisi keindahan maupun kedalaman makna yang dikandungnya. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sebagai Mukjizat yang diberikan Kepada Muhammad Rosulullah SAW nabi Akhir Zaman.
Bagi orang-orang yang membenci islam dan selalu mencari-cari celah islam sering mengatakan bahwa susunan dan tata letak ayat-ayat Al-Qur’an itu kacau dan tidak sesuai dengan urutan turunnya. Fenomena ketidak sesuaian tata letak ayat-ayat Al-Qur’an dengan urutan turunnya ini justru sebagai bukti bahwa Al-Qur’an bukanlah teks buatan manusia yang memiliki sistematika seperti buku-buku tematis yang dapat kita temukan sekarang ini. Syaikh Muhammad Farid Wajdi, sebagaimana dinyatakan dalam mukadimah tafsirnya mengatakan “sesungguhnya Al-Qur’an tidak harus menempuh kaidah penulisan seperti yang dikenal manusia. Hal ini dikarenakan sekiranya Al-Qur’an mengikuti metode penulisan buku-buku tematik dengan menggunakan urutan permasalahan atau pembagian kedalam bab-bab tertentu, maka justru ia akan menjadi seperti kitab buatan manusia, bukan kitab suci dari langit. Kemestian adanya tata urutan yang sistematis sesungguhnya hanya berlaku pada perkataan atau kreasi manusia, sementara terhadap firman Allah sangat riskan untuk diterapkan. Perumpamaannya adalah seperti sulitnya memberi batas pada sebuah samudra, sementara untuk anak sungai yang kecil sangat mudah untuk diterapkan”.

Pemikiran tentang ketiadaan hubungan dan kesesuaian ayat-ayat Al-Qur’an sering dipropagandakan oleh orang-orang yang tidak suka dengan islam dan para orientalis dengan mengatakan bahwa didalam Al-Qur’an terdapat kekacauan dalam kandungannya bahkan mereka melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah mukjizat atau berasal dari Allah SWT melainkan buatan Muhammad. Dan bahkan mereka menipu-nipu dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an turun di arab ya mestinya hanya untuk orang arab atau mestinya Al-Qur’an diterjemah sesuai dengan bahasa negara masing-masing tanpa menyertakan bahasa arabnya, jelas ini adalah suatu perkataan yang konyol dan hanya bermaksud untuk melemahkan iman kaum muslim.

Sejak awal turunya Al-Qur’an telah melontarkan tantangan kepada bangsa Arab, yaitu masyarakat yang berbicara dengan bahasa yang sama dengannya serta yang mengetahui seluk-beluk tata bahasanya, untuk membuat perkataan lain yang menandingi kehebatan Al-Qur’an baik secara keseluruhan atau surahnya saja. Al-Qur’an juga mempersilahkan para ahli sastra arab untuk meminta batuan kepada siapa saja selain Allah SWT. Bahkan saking seriusnya Al-qur’an juga menyindir bahwa mereka tidak akan mampu dan tidak akan sanggup untuk melakukannya. Realita yang kemudian terlihat memang menunjukkan kebenaran pernyataan Al-Qur’an bahwa memang tidak ada yang sanggup membuat seperti Al-Qur’an walau seayatpun. Namun dasar orang konyol mereka malah berkata “ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu) ,” (Al-Muddasir: 24).

Secara ilmiah dapat ditegaskan bahwa sistematika penyusunan surat dan ayat Al-Qur’an seperti yang sekarang terlihat dalam mushaf,mestinya mengandung banyak rahasia dan hikmah, sekalipun belum ditemukan oleh sementara orang. Meski turunnya secara periodik dalam kurun waktu lebih dari dua puluh tahun dalam kondisi dan situasi yang bervariasi, ayat-ayat Al-Qur’an tetap terangkai apik dan harmonis. Sesungguhnya fenomena tata urut Al-Qur’an yang tidak berdasar masa turunnya ini menunjukkan Mukjizat terbesar yang diberikan Allah SWT.

“Alif Lam Ra. (inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana, Mahateliti (Huud:1).

Al-Qur’an tetap terjaga dan hanya Allah yang menjaganya, sudah banyak manusia yang hafal Al-Qur’an dari anak-anak sampai dewasa dari jaman Rosulullah Muhammad SAW sampai Jaman sekarang ini dan sampai akhir Jaman.


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr. 9)

2 Responses to Al-Qur’an kitab suci yang terjaga

  1. abu hanan mengatakan:

    assalamualaykum

    dan seringkali orang terlupa bahwa sebenarnya tidak pernah ada yang namanya kitab suci itu turun-gedebluk-plek secara utuh.
    melainkan berangsur2 dg metode yg berbeda pada tiap agama.
    injil dan veda adalah contoh yg sama dalam konteks ditulis oleh subyek yg berbeda.
    dan selanjutnya..silahken forum dibuka.
    deng deng (gong mode on)

    salam ukhuwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: