Peran Islam dalam Perkembangan Sains

Al-Qur’an bukan hanya menekankan pada belajar membaca, dan menulis tetapi juga mendorong manusia untuk menghilangkan berbagai pandangan yang memitiskan alam. Bahkan memerintahkan menusia untuk menyelidiki rahasia-rahasia alam juga sebagai landasan dan petunjuk hidup manusia. Dalam hal ini peran islam melalui Al-Qur’an terhadap perkembangan sains sangatlah besar.

Professor Alessandro Bausani dalam bukunya “ISLAM AS WESENTIAL PART OF WESTERN CULTURE” mengatakan “ sikap islam terhadap realitas fisik alam serta nilai etikanya, pengetahuan eksperimental tidak mungkin lahir tanpa terlebih dahulu menghilangkan pemitosan alam dam monotisme dalam bentuknya yang paling murni merupakan absolute bagi kelahirannya”.

Selanjutnya Briffault dalam bukunya “making of humanity” mengatakan : “ penyelidikan , akumulasi pengetahuan positif, kaidah sains dan pengamatan berkepanjangan semuanya asing bagi kebiasaan Yunani, ini semua diperkenalkan di Eropa oleh orang Arab dengan Al-Qur’annya.
Sedangkan Rom Landau dalam bukunya “ THE ARAB HERITAGE OF WESTERN CIVILIZATION “ mengatakan dan telah menunjukkan betapa besar hutang eropa kepada penemuan dan pemikiran kaum muslimin, menurutnya “ Telah menjadi kebiasaan orang mengatakan bahwa agama merupakan penghambat kemajuan dan perkembangan sains . Keberhasilan orang Arab memperlihatkan tidakdemikian halnya. Apa yang sering menghambat kemajuan Ilmu Pengetahuan di barat bukanlah agama, tetapi adalah penafsiran sempit dan dokmatis mengenai kebenaran agama oleh penguasa gereja yang konservatif, dengan menghukum Galileo, seorang filosuf terkenal , serta pembakaran hidup-hidup sebagai misal. Kebanyakan penemuan matematika orang Arab diperoleh bukan tanpa agama tetapi justru karena agama. Demikian pula agama adalah pendorong ilmuwan Arab untuk tidak membatasi diri pada suatu bidang saja,tetapi universalitas.

Islam melalui Al-Qur’an telah memotivasi seluruh umat islam untuk berfikir dan merenungkan alam semesta ini untuk mengenal kebesaran Tuhan,sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Baqarah ayat 164 yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan,dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya terdapat tanda-tanda (ke-Esaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.
Disamping ayat-ayat diatas masih banyak lagi perintah Tuhan untuk merenungkan alam semesta ini, sehingga lahirlah ilmuwan-imuwan muslim saat itu yang telah meletakan dasar-dasar perkembangan sains saat ini.
Beberapa Ilmuwan muslim yang telah menyumbangkan pemikiran dan penemuannya dalam perkembangan sains diantaranya (dalam bidang astronami saja) adalah :

1. Al-Farghani
Hasilpenelitian Al-Farghani di bidang astronomi ditulisnya dalam berbagai buku diantaranya HARAKAT AS-SAMAWIYAH WA JAWAMI ILM AN-NUJUM (Asas-Asas Ilmu Bintang) adalah salah satu karya utamanya yang berisi kajian bintang-bintang yang sangat berpengaruh bagi perkembangan astronomi di Eropa. Walaupun dalam bukunya Beliau mengadopsi sejumlah teori Ptolomaeus tetapi ia mengembangkannya lebih lanjut hingga membentuk teorinya sendiri. Karena sangat pentingnya karya bagi orang-orang Eropa maka karya tersebut banyak diterjemahkan kedalam bahasa inggris dan judulnyapun berubah menjadi “The element of Astronomi”. Pada tahun 1135 buku ini diterjemahkan dalam bahasa latin oleh John Seville dan kemudian direvisi oleh Regiomontanus pada tahun 1460.

2. Al-Battani
Hasil penemuan Albattani yang penting bagi dunia adalah penemuan tentang waktu revolusi bumi terhadap matahari yaitu 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Angka ini mendekati angka yang dihasilkan dari penelitian modern dengan menggunakan alat yang lebih akurat. Penemuan lain yang takkalah mengagumkannya adalah penemuan garis bujur terjauh matahari mengalami peningkatan sebesar 16,47 derajat sejak perhitungan yang dilakukan Ptolomeaus beberapa abad sebelumnya. Ia dianggap Guru bagi orang-orang Eropa karena banyakmemperkenalkan terminology astronomi yang berasal dari bahas Arab, seperti Azimuth, Zenith dan nadir.

3. Jabir Bin Aflah
Jabir pernah menulis buku yang mengoreksi tentang kesalaha teori Ptolomeaus yang berjudulKitab Al-Hay’a (The Book of Astronomi),selain itu Kitab ini juga berisi tentang Trigonometri, pada bagian Trigonometri Sferis,Jabir menggunakan Rule of The Four Magnetudes atau Aturan Empat Besaran sebagai landasan untuk turunan rumusnya. Beliau juga menambahkan satu rumus utama untuk menghitung sudut segi tiga yaitu Cos A = Cos a Sin B. Fungsi trigonometri (sinus cosinus) ia perkenalkan juga pada Geometri Bidang. Karya Jabir telah diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona, sebelum kemudian diterbitka oleh Fetrus Apianus di Nuremberg,Jerman tahun 1534.

4. Ibnu Yunus
Ibnu Yunus adalah penemu bandu (ayunan) yang berguna untuk mengetahui detik-detik waktu ketika seseorang sedang meneropong benda-benda angkasa. Karya Ibnu Yunus ini telah dikenal eman abad sebelum Galileo Galilei menemukan pendulum (1564-1642).Ibnu Yunus juga menemukan Rubu Berlubang (Gunners Quadrant) sebuah alat untuk mengukur gerak bintang. Ibnu Yunus juga menulis buku dengan judul “ Az-Zij Al-Kabir Al-Hakim atau Zij Ibnu Yunus” yang kini lebih dikenaldengan nama “Hakemite Astronomical Table”. Dikemudian hari buku ini diterjemahkan kedalam berbagai bahasa dan diterbitkan di sejumlah Negara. Oleh Umar Khayyam buku ini dibawanya ke Persia, Nashiruddin Thusi sang ahli astronomi membanwanya ke Mongol, Pada tahun 1280 Co Cheon King membawa buku ini ke daratan China.
Disamping empat Ilmuwan muslim di atas masih banyak lagi Ilmuwan-Ilmuwan Muslim lainya yang menyumbangkan karyanya dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan (sains), ilmu yang berkembang sekarang tidak lain adalah pengembangan dari dasar-dasar keilmuwan yang sebelumnya telah diletakkan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim.

Perkembangan sains dalam dunia Islam mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan setelah Imam Al-Ghazali memisahkan antara ilmu agama sebagai ilmu wajib dan ilmu-ilmu umum sebagai ilmu sunnah. Dengan demikian masyarakat islam lebih mengejar ilmu agama yang berfisat wajib tadi ketimbang ilmu-ilmu umum, inilah yang menjadi titik balik kemunduran umat islam. Demikian pula berkembangnya tasawuf telah memalingkan umat islam pada kesalehan individu dengan meninggalkan persoalan keduniawian. Dikotomi Antara agama dan ilmu sangat terasa di Indonesia yaitu dengan adanya dua Departemen yang masinyang masing-masing membawahi dunia pendidikan yaitu Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, yang masing masing memiliki corak pendidikan yang berbeda misalnya ditingkat dasar terdapat Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Desar (SD) sampai pada tingkat Perguruan Tinggi Terdapat IAIN dan STAIN yang memprioritaskan kajian-kajian agama sedangkan Keilmuan umum dikembangkan diperguruan Tinggi Umum.

Perkembangan sains dalam dunia islam menuju dua arah yaitu ke Barat dengan di bawa oleh Ibnu Rusyd dengan rasionalismenya dan bergerak ke Timur dengan dibawa oleh Imam Al-Ghazali dengan tasawufnya. Pengaruh dibarat sangat pesat sehingga mampu membuka rahasia-rahasia alam semesta, namun sangat disayangkan karena dalam perkembangannya sains telah meninggalkan agama bahkan ingin menggantikan padangan agama dengan pandangan sains. Begitu juga di Timur pengaruh tasawuf Al-Ghazali sangat kuat karena seiring dengan pandangan bangsa Timur. Sekalipun keduanya sama-sama berkembang dengan pesat tetapi membawa corak yang berbeda, di barat lebih menekankan pada pembacaan alam semesta (konteks) yang memungkinkan ilmu-ilmu empiris berkembang, sedangkan di timur lebih menekankan pada pembacaan teks yang memungkinkan untuk berkembangnya ilmu-ilmu spiritual/agama. Tetapi pemahaman teks yang berbeda juga berakibat konflik sosial keagamaan dan tidak berkembangnya sains modern. Dengan mandulnya perkembangan sains modern saat ini di dunia islam sekan menghapus peradapan islam masa lalu sebagai peletak pondasi sains saat ini. Dunia islam seakan tertinggal dalam bidang sains modern, dengan ketidakmampuan masyarakat muslim untuk melahirkan sains modern saat ini.
Tetapi kenyataan yang tidak boleh terlupakan oleh dunia Barat yaitu sains barat sebenarnya adalah sains islam yang dikirim kembali ke dunia islam, aneh memang terasa, tapi kenyataan seperti itu. Banyak teori teori sekarang yang pencetusnya adalah orang barat, walaupun dimasa lalu barat bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dunia islam, namun sekarang terbalik.

Bukti apabila dunia islam sangat berperan dalam perkembangan sains barat adalah pernyataan Peter Davies: “ peradapan Arab telah memberi kontribusi yang mendalam kepada peradapan Eropa, dan kenyataan ini dengan amat jelas dicerminkan dalam banyak kata-kata penting yang dipinjam dari bahasa Arab. Kebanyakan tidak datang langsung ke bahasa inggris tetapi dipinjam melalui bahasa Turki, Itali, Spayol dan Perancis”.

Perkembangan sains barat sudah sangat jauh dari sentuhan agama, para kreatornya telah menafikan Tuhan dalam penciptaan Alam semesta (baca di pemberontakan pada Tuhan Pencipta Alam Semesta) ini sangatlah bertentangan dengan Kitab Suci, Al-Qur’an dengan ayat-ayatnya mengharapkan agar manusia merenungkan Alam semesta untuk mengenal kekuasaan Tuhan. Walaupun Al-Qur’an bukanlah Kitab Sains, setidaknya informasi tentang Alam Semesta tersirat didalamnya, ini karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, pentunjuk untuk apa? Untuk apa saja, karena Al-Qur’an adalah Kitab yang sempurna.

Sekalipun Sains modern sekarang sedang menuju “DEISME”. Namun kita sebagai orang islam mestinya juga menggeluti bidang sains modern tanpa bimbang dan ragu-ragu lagi, apa lagi takut masuk neraka hanya karena belajar sains modern, kita harus kembali membawa pandangan sains yang telah tersesat kedalam pandangan agama, agar sains juga menuntun manusia untuk mengenal Tuhan, karena pada hakekatnya seluruh ciptaan telah tunduk pada kehendakNya, dalam surat Al-Rum ayat 26, Tuhan berfirman yang artinya : “ Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada dilangit dan di bumi semua hanya kepadaNya tunduk”.

Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu, berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan member I kelapangan untukmu. Dan bila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al-Mujadilah : 11)

Tanpa sains,kita tidak akan mampu mengelola sumber daya alam yang umumnya sangat melimpah di negeri-negri muslim. Tanpa sains kita akan bergantung pada Negara lain yang akhirnya kita akan di dekte dan dipermainkan dan menjadi bangsa konsumen, yang akhirnya menjadi bangsa buruh.

25 Responses to Peran Islam dalam Perkembangan Sains

  1. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,, mas kaisnet
    (koment menunggu maghrib nih…)

    yang masih menyisakan tanya dalam benak sy adalah : makna “bumi dihamparkan”

    audzubillahi minassyaithonirrajiim, bismillahirrahmaanirrahiim, insyaallah kurang lebih artinya :
    QS An Nazi’at 79:30. “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.”
    QS Al Ghasyiyah 88:20. “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? ”
    Apakah bertentangan dng sains ???, ataukah justru sains yg belum cukup utk memahami makna “dihamparkan” ???

    Kalo menurut sy sih (sekedar pendapat pribadi), bahwa earth (‘ardh) bukanlah semata “bumi” yg kita pijak sekarang, earth (‘ardh) adalah sebuah galaksi bima sakti yg jika diamat dari sudut pandang tertentu akan seperti debu bertebaran yg “dihamparkan”.

    • kaisnet mengatakan:

      Waalaikumsalaam Wr. Wb.

      Kedua ayat tersebut tetap saja mengacu pada bumi yang kita tempati ini. kata dihamparkan sebenarnya merujuk pada ukuran bumi, sesuatu akan terlihat menjadi hamparan jika ukurannya sangat besar. bumi terlihat seperti hamparan karena ukuran bumi jauh lebih besar dari ukuran manusia.
      kata “balada” dalam bahasa arab berarti keadaan bulat seperti telur burung onta, sehingga ayat tersebut merujuk pada bentuk bumi yang seperti telur burung onta. disamping itu kata “dahada” juga berarti membentang/hamparan. konsep bentuk bumi yang seperti telur burung unta akan susah dipahami oleh orang-orang saat itu bahkan sebagian orang sekarang ini. dengan demikian bentuk bumi yang seperti telur burung onta (lonjong) akan terlihat seperti hamparan karena ukuran bumi jauh lebih besar dari ukuran manusia.
      sains telah membuktikan bahwa bentuk bumi bulat agak lonjong.

      Salam

    • abu hanan mengatakan:

      waalaikum salam,,,
      maaf,saya hanya mikir sederhana saja ;
      bahwa “dihamparkan” adalah sejauh mata memandang dari tempat kita berdiri.Pada masa itu-saya pikir- pengertian tersebut lebih mudah dimengerti.Dalam perkembangan berikutnya seluruh isi alam bahkan alam sendiri adalah memang “dihamparkan” dari segi antara makhluk dgn pencipta seperti kalau kita melihat peta dunia dalam selembar kertas.
      Tetapi jika diteliti lebih lanjut tentang ayat2 yang mengikutinya maka akan tampak jelas bahwa maksud “dihamparkan” adalah peran bumi sebagai tempat berpijak,berbaring dan duduk.

      hampir lupa,kemana ya perginya air pada saat terjadi pasang surut?Atau pasang surut di Indonesia tetapi di Mexico lagi pasang naik jadi airnya pindah tempat?Ato gimana?
      wassalam

  2. kaisnet mengatakan:

    Kita semua mungkin sudah mengetahui dalam teori fisika menyatakan bahwa jika ada dua benda bermassa m1 dan m2 terpisah sejauh r maka kedua benda tersebut akan mendapat gaya tarik sebanding dengan kedua massanya dan berbanding terbalik dengan kwadrat jaraknya.
    pada peristiwa pasang, bumi mendapat gaya tarik terbesar oleh bulan karena posisi bulan terdekat dengan bumi, sehingga air dipermukaan bumi naik,artinya air mengalir ke bagian permukaan bumi yang yang mendapat gaya tarik terbesar oleh bulan karena jarak terdekatnya (jika posisi bulan terdekat di mexico maka air akan cenderung mengalir menuju mexico)

    mungkin seperti itu yaaa, kata guru kita dulu. maaf jika bahasa saya saya sederhana.

  3. anang nurcahyo mengatakan:

    artikel menarik. ilmu bermanfaat. trima kasih

  4. hindin mengatakan:

    Menarik sekali Ko. Memang tidak disangsikan lagi bahwa Islam telah menjadi pondasi sains. Terus terang aku kurang sependapat jika kemunduran sains dalam masyarakat muslim diakibatkan oleh berkembangnya tasawuf. Fakta sejarah menunjukkan bahwa sains berkembang begitu pesat pada masa itu karena adanya kebebasan. Kebebasan ini mulai dipasung sejak ada diterimanya dikotomi Ilmu Agama dan Ilmu Umum yang idenya memang dari Al-Ghazali. Tentu yang berperan dalam memasung kebebasan itu adalah para khalifah yang berkuasa dan para ulama yang mendukung khalifah yang berkuasa pada masa lalu. Ada pepatah yang berkembang pada masyarakat muslim: Ilmu Umum (sains) akan menjauhkan manusia dari Tuhan.

    Masa kegelapan menyelimuti Eropa saat masyarakatnya berada di bawah kekuasaan gereja. Masa pencerahan di Eropa dimulai dengan perkembangan sains. Sains berkembang sangat pesat di Barat justru setelah mereka menyatakan keluar dari gereja. Karena doktrin gereja tidak memuaskan akal, maka para ilmuwan Barat melepaskan diri dari agama/gereja. Ada adagium: kalau ingin maju, jangan mengikuti agama. Bahkan Marx menyatakan bahwa agama adalah candu. Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa kondisi yang diperlukan untuk kemajuan sains sebenarnya adalah kebebasan.

    Kebebasan itulah yang penting untuk diperjuangkan saat ini. Kita lihat saja masih ada sebagian saudara muslim kita yang gemar mengkafirkan orang lain, mudah sekali menyebut berbagai amalan sebagai bid’ah, bahkan melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Hal-hal demikian justru membuat kita semakin larut pada kondisi yang buruk dan menjauhkan Islam sebagai pondasi bagi sains.

    Kupikir bumi yang dihamparkan adalah bumi yang padanya ditempatkan makhluk khusus bernama manusia. Manusia diutus menjadi khalifah di bumi. Sebagai khalifah, manusia diberikan amanat untuk menjadi wakil Tuhan di bumi. Manusia diberikan kesempatan secara bebas untuk mengeksplorasi (bukan mengeksploitasi) dan memanfaatkan bumi untuk pemenuhan kebutuhan dan memenuhi tugasnya sebagai khalifah di Bumi. Eksplorasi bumi secara bebas pada gilirannya menghasilkan sains.

    • kaisnet mengatakan:

      Okeeee, aku setuju.

      Iyaa e Nda kadang-kadang aku juga prihatin dengan gesekan-gesekan di tubuh kita sendiri.
      Sains terabaikan di dunia kita, padahal SAINS sebenarnya adalah AYAT-AYAT KAUNIYAH. dan banyak lho perintah Allah SWT. untuk merenungkan ALAM ini.

      Ayo Bos Nulis lagi.

  5. fathan mengatakan:

    kalau saya memahami “bumi dihamparkan”, maksudnya ada bagian bumi yang dijadikan terhampar atau datar sedangkan bagian lainnya ada yang berbukit dan tidak rata. Dengan dijadikan sebagian bumi dataran yang terhampar, mempermudah manusia untuk bercocok tanam dan membangun perkampungan. Bayangkan saja bila tidak ada tempat yang datar di bumi, manusia harus bekerja ekstra untuk membangun pemukiman.

    Soal kemunduran tradisi ilmiah, mungkin tidak hanya karena pemikiran ghazali saja, jika melihat sejarah peradaban Islam, kemunduruan tradisi ilmiah berbanding lurus dengan situasi politik. Akibat penyerbuan tentara mongol yang menghancurkan pusat-pusat tradisi ilmiah juga menjadi sebab kemunduran Tradisi Ilmiah islam. Yang sedikit saya ketahui, Pada akhir abad 14 masehi masih ada perkembangan sains dan teknologi dalam peradaban Islam. namun baru setelah masa kolonial pasca newtonian, Umat Islam benar-benar kehilangan tradisi Ilmiah.

    Salah satu buku yang bagus membahas perkembangan Islam dan Sains adalah buku berjudul “Islam and Science” karya Muzafar Iqbal. Buku ini membahas cukup ilmiah dan mendetail mengenai sejarah perkembangan Sains dalam peradaban Islam. Buku ini lebih menyoroti tentang bagaimana “Tradisi Ilmiah Islam (Islamic Scientific tradition)” dibangun dan dikembangkan Umat Islam.

  6. kaisnet mengatakan:

    Terima kasih Mas atas komen dan INFO BUKUNYA

  7. ajam mengatakan:

    Citra negatif tentang sains (ilmu) di dunia Islam nampaknya perlu diluruskan, memang tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa, jika meperdalamnya akan membahayakan keimanan, sebab konon sains bertentangan dengan agama. Tetapi menurut pendapat saya malah sebaliknya. Tanpa mempelajari ilmu terutama kosmologi, pengetahuan kita terhadap sososk pencipta, watak dan hukum yang diterapkannya tidak akan tahu. Padahal itu merupakan pokok utama dalam menentukan sikap yang harus diambil dalam mengimaninya. Dalam keimanan, hukum adalah penentu nasib hidup, apabila salah dalam mematuhinya, celakalah nasib diri. Keyakinan pada Tuhan tidak bisa diduga-duga atau dikhayalkan perasaan, tetapi harus diketahui secara pasti melalui hasil penelitian ilmu.
    Manusia dinyatakan sebagai makhluk terpenting dan menjadi pusat penciptaan bukan dilihat dari wujud fisiknya, tetapi karena akalnya. Kenyataan itu dapat dilihat dari catatan sejarah, baik dari puing-puing peradaban maupun yang diberitakan dari kitab-kitab petunjuk rosul. Semua itu digambarkan oleh pemikiran dan kemampuan akal manusia. Sehingga tanpa kehadiran manusia tidak mungkin hadir istilah apapun, termasuk jin, setan, malaikat, dan alin-lain. Dengan kata lain, potensi akal tinggi yang dimilikinya menjadi ukuran tinggi rendahnya peradaban. Semakin tinggi kesadaran masyarakatat atas potinsinya, peradaban masyarakat tersebut semakin maju. Sebaliknya, semakin rendah kesadaran atas potensinya, peradaban masyarakat itupun akan semakin rendah pula. Pada kesadaran atas potensi yang meluncur ke tingkat yang paling rendah, maka masyarakat itu menjadi biadab.
    Menurut fitrahnya, makhluk berakal akan selalu berusaha melakukan yang benar, tetapi nilai benar itu sangat tergantung pada tingkat potensi akal yang dimilikinya. Kita dapat menyimpulkan bahwa teori-teori ilmu dan pola pikir manusia umumnya berlandas pada 3 tingkat perubahan bentuk dalam tingkat ruang yaitu, hanya pada dimensi tampak. Akibat pola pikir yang tidak lengkap itu, berlangsungnya perubahan pemikiran menyesuaikan dengan tempat kedudukannya menjadi samar, sehingga perubahan bentuknya terlepas dari pengamatan.
    Hukum alam atau hukum evolusi, mempunyai pola sederhana namun memiliki pengembangan yang tidak terbatas. Perubahan bentuk yang menyesuaikan (conformal transformation) dari teori skalar tensor Pascual Jordan dan persamaan gelombang kenisbian (relativistic wave equation) Paul Dirac merupakan dasar dari hukum tersebut. Gabungan dari keduanya menunjukan bahwa, segala benda dan peristiwa tidak bisa tidak akan berkembang menyesuaikan diri (berevolusi) pada ruang dan waktunya.
    Manusia sebagai makhluk berakal yang memiliki ego (rasa) umumnya berfikir dari alamnya sendiri, sehingga menganggap kebenaran ada di fihaknya. Bahkan ekstrimnya berfikir lebih sempit lagi, yaitu memihak pada lingkup bidang tempat dirinya berada. Masing-masing kita memihak pada kedudukan sendiri. Contohnya dapat kita buktikan melalui definisi, yang pada garis besarnya terbagi dalam 3 bidang yaitu : agama, politik, dan, ilmu. Sekalipun masing-masing di antara kita memiliki pengetahuan atau mempelajari bidang-bidang tersebut, namun secara alami, sikap kita akan memihak pada salah satu bidang yang dipilih.
    Mari kita lihat kenyataannya, ketiga kelompok itu mengadakan diskusi gabungan, mereka adalah para filsuf dari ketiga bidang tersebut, setidaknya, mereka semua berangkat dari falsafah. Dalam perjalanan hidupnya kemudian, yang memilih berkecimpung di bidang agama, cenderung akan menjadi agamawan, dan akan berpendapat bahwa agama adalah kebenaran tertinggi. Orang yang mengambil bidang politik atau ilmu sebagai pilihan hidupnya, masing-masing akan menjadi politisi dan ilmuwan, sekaligus akan menganggap bidang yang dipilihnya adalah kebenaran tertinggi. Dengan kata lain, ketika mereka merumuskan definisi, masing-masing akan menempatkan bidang pilihannya pada kedudukan tertinggi. akibatnya ketika dilakukan diskusi gabungan tentang definisi kebenaran, yang terjadi adalah perdebatan tanpa akhir yang berlangsung penuh emosi dan berlarut-larut, tanpa memperoleh rumusan yang pasti dan dapat diterima secara bulat oleh ketiga fihak pembicaranya.
    Pilihan pola fikir tersebut, disadari atau tidak disadari membawa kepada perubahan tingkat kesadaran atas potensi diri. Kesadaran atas potensi menghasilkan peringkat kemampuan berfikir akal. Itulah sebabnya, ketika utusan dari 3 bidang itu berdiskusi, mereka tidak dapat memperoleh kebenaran yang sama dalam rumusannya. Diskusi yang tujuannya mencari kebenaran hakiki tidak akan pernah tercapai, karena mereka masing-masing memegang kebenarannya, yang tentu saja tidak akan sama, karena perbedaan tingkat kesadaran atas potensi.
    Sampai hari ini, didunia terdapat 3 teori tentang kebenaran yaitu, teori korespondensi (the correspondence theory of truth), teori konsistensi (the consistence theory of truth), dan teori pragmatis (the pragmatic theory of truth). Dari ketiga teori ini, masing masing punya penganut serta pendukung, dan memang prilaku manusia tidak akan terlepas dari ketiganya.
    Teori korespondensi menyatakan bahwa, kebenaran harus sesuai (conforms) dengan fakta, selaras dengan kenyataan, dan serasi (correspond) dengan bukti atau keadaan yang sesungguhnya. Dengan kata lain, kebenaran harus memiliki bukti-bukti nyata, itu adalah kebenaran yang dipercayai akal, atau kebenaran ilmu.
    Teori konsistensi menyatakan bahwa, kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgment) dengan sesuatu yang lain (yaitu fakta dan kenyataan), tetapi atas hubungan di antara putusan itu sendiri. Artinya kebenaran didasarkan pada pernyataan sebelumnya, atau sesuatu dinyatakan benar, bukan didasarkan pada bukti atau kenyataan. Tetapi pada keputusan yang telah disepakati sebelumnya. Sebagai contoh, ada sehelai kertas, sekarang berwarna kuning, dulunya ia berwarna putih, maka pemegang teori ini menyebut kertas itu putih. Penganut teori konsistensi tidak mau tahu bahwa kertas itu telah berubah warna karena terkena evolusi waktu. Mereka menolak hukum alam yang berlangsung dalam evolusi. Dengan kata lain, mereka bersepakat menolak bahwa diri mereka telah berevolusi dari seorang bayi menjadi orang dewasa. Itu adalah kebenaran kesepakatan atau kebenaran politik.
    Teori pragmatis menyatakan bahwa, suatu ukuran disebut benar selama ukuran itu berlaku dan memuaskan menurut anekaragam pandangan yang digambarkan oleh penjelasan orang berlainan. Dengan kata lain, suatu pendapat dikatakan benar apabila membawa akibat yang memuaskan, apabila berlaku dalam praktek, apabila mempunyai nilai praktis. Artinya kebenaran harus dibuktikan oleh kegunaannya, hasil dan akibat-akibat praktisnya. Karena itu, kebenaran adalah yang berlaku, sehingga didunia ini tidak ada kebenaran mutlak. Sesuatu disebut benar jika membawa akibat yang memuaskan perasaan. Kalau tidak memuaskan perasaan, sekalipun ada bukti atau sesuai dengan kenyataan, maka harus ditolak. Jadi, masuk akal ataupun tidak masuk akal harus diterima jika memuaskan perasaan. Itulah kebenaran agama.
    Kita dapat melihat, teori korespondensi berbeda dari kedua teori lainnya (teori konsistensi dan teori pragmatis). Kedua teori yang terakhir ini mempunyai pandangan yang hampir sama, yaitu kebenaran buatan manusia. Kebenaran konsistensi adalah kebenaran dari ketentuan yang disepakati bersama atau kebenaran kami (ego kelompok). Sedangkan kebenaran pragmatis berangkat dari kepercayaan terhadap kekuatan super yang tidak terjangkau akal, sehingga masuk akal ataupun tidak masuk akal harus diterima asal memuaskan perasaan diri atau kebenaran aku (ego diri). Dua kebenaran ini muncul dari perasaan manusia yang selalu ingin memuaskan jasad (pamrih-ambisi). Karena watak dari hukum yang dianut keduanya sama, sehingga bagi penganut agama tidak ada hambatan untuk menjadi politisi, sebaliknya seorang politisi tidak ada larangan jadi agamawan.
    Bagi penganut teori korespondensi, kebenaran harus ditemukan dari alam melalui penelitian yang memberi alasan-alasan. Sebab mereka percaya bahwa alam diciptakan dengan ilmu dalam proses evolusi perubahan bentuk mengurut sinambung dari sebab ke akibat. Sehingga memiliki alasan-alasan yang dapat dijelaskan akal, mengapa alam ini dibuat, siapa yang membuatnya, hukum apa yang diterapkannya, bagaimana nasib akhirnya. Dengan berbekal pengetahuan itu, penganut teori korespondensi dapat menentukan pilihan langkah hidupnya sesuai dengan hukum sebab akibat yang diciptakan Alloh.
    Orang yang menganut kebenaran korespondensi adalah para ilmuwan murni, dan orang ummi (tidak beragama dan berpolitik), mereka konsisten percaya pada hukum fisika atau hukum alam ciptaan Alloh. Dalam menyikapi hidupnya, selalu berpegang pada hukum sebab akibat karena mengetahui bahwa alam ini diciptakan dengan hukum pembalasan seimbang. Jika kita berbuat baik –netral-adil– di alam sebab (dunia), maka Hukum (Tuhan) akan membalasnya di alam akibat (akhirat) dengan kebaikan pula, sebaliknya jika mengikuti kehendak rasa-jasad (syahwat-angkara-pamrih-ambisi) di dunia ini, maka di akhirat kelak akan dilemparkan ke jalur malik.
    Namun kenyataannya, kebanyakan manusia tertipu oleh penampilan luar akibat rasa yang ada di dirinya selalu ingin memuaskan jasad. Sementara para agamawan sepanjang jaman selalu menanamkan doktrin kepada manusia bahwa agama adalah ajaran Tuhan yang membina moral. Dengan demikian, para orang tua sejak dini telah menanamkan agama yang dianutnya kepada anak-anaknya sebagai keimanan yang benar, sedangkan agama lain salah. Tidak heran jika mayoritas manusia mengaku beriman kepada Alloh berdasarkan keturunan. Padahal doktrin itu merupakan akar pembentuk watak egois-diskriminatif yang menimbulkan perpecahan-permusuhan di antara manusia darai generasi ke generasi di muka Bumi ini.
    Kenyataan, carut-marutnya hukum yang terjadi di negeri ini demikian parah. Sementara koruptor menjamur di setiap lini, bahkan itu terjadi dilingkungan yang harusnya menjadi teladan seperti Departemen pendidikan dan Deprtemen agama. Padahal kita tahu, penduduk negeri ini adalah orang-orang yang katanya “beriman“. Penerangan agamawan di media-media tiap hari dari pagi buta, tidak pernah terlewatkan, tetapi mengapa keadaan menjadi tambah parah. Lalu bagaimana pertanggungjawaban para agamawan-ulama yang mengkalaim sebagai pembina moral?.
    Jika melihat akar dari kepercayaan yang diparakan di atas serta akta yang ada, nampaknya, kita pun wajib berfikir dan merenungkan kembali tentang pilihan hidup. Hukum apa yang selama ini kita pegang, sudah betulkah yang kita imani.untuk. Sebab hukum Alloh itu bersifat kekal, kematian di alam fana bukan akhir kehidupan, tetapi sekedar jeda hukum untuk menunggu proses evolusi keseluruhan (kiamat), sebagai penentu nasib hidup di alam akibat.

  8. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum….

    Loh,,, sekarang ada moderasi juga ya Mas ???

  9. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum….

    Loh,,, sekarang ada moderasi juga ya Mas ???

    he,,he,, coba ilmu dari mas kaisnet kemaren. Thank’s

  10. hindin mengatakan:

    PRIHATIN ATAS TERJADINYA TINDAK KEKERASAN ATAS WARGA AHMADIYAH. TERNYATA DI NEGERI INI TIDAK ADA PERLINDUNGAN SAMA SEKALI DARI NEGARA TERHADAP WARGANYA.
    TAMPAKNYA PELAKU MENGENAKAN ATRIBUT MIRIP ISLAM. JIKA BENAR PELAKU ADALAH ORANG ATAU ORGANISASI ISLAM, MAKA SAYA MENGUTUK ORANG ISLAM ATAU ORGANISASI TERSEBUT. ORANG BODOH MACAM APA YANG MEMPUNYAI PEMIKIRAN MUNDUR KE BELAKANG?
    KATA GEERT WILDERS ISLAM = NAZI. WALAUPUN SAYA TIDAK SETUJU DENGAN PERNYATAAN ITU TAPI TAMPAK ADA SEBAGIAN UMAT ISLAM YANG TINGKAHNYA MEMANG MIRIP NAZI.
    MARI KITA BERKABUNG ATAS KEBODOHAN INI.

  11. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,,,

    Mas Kaisnet, koq ga nulis lagi…
    Masih banyak sains Islam yang belum sy pelajari, mohon posting yang sesuai dengan nama blognya ya mas. Semoga memberikan kontribusi bagi peradaban Islam dan Dunia.

  12. Samaranji mengatakan:

    (thok,,thok,,thok,,, ) Assalamu’alaikum…

    Mas Kaisnet, request ttg Mekkah sbg “pusat bumi” dunk. Trus yang katanya Mecca Royal Clock di Tower Abraj Al-Bayt sbg simbolis penggunaan MMT sebagai ganti GMT itu. Jika berkenan, segera diposting dunk. (sedikit maksa sih, he,,he,,,)

    • kaisnet mengatakan:

      Kretek….,kretek………, Waalaikumsalaam

      Insyaallah MAS Samaranji yaaa, lhooo di MAS ARGOSILOKU kan sudah memposting.
      atau postingan lainya aja yaaa, masih cari idea nich, dan saya masih asyik mengikuti KOMENT – KOMENT Mas SAMARANJI, Mas FILAR dan KANG ABU di BLOKnya MAS FILAr.

      SaLAm

    • Samaranji mengatakan:

      Assalamu’alaikum,,,

      Oya ? Di tempatnya kang agor ada ya. Terus terang artikel beliau sangat bejibun, jadi kadang emang mungkit terlewatkan. Makasih infonya mas,,, keep fighting, dan jangan lupa keep posting…

      Wassalamu’alaikum.

  13. abu hanan mengatakan:

    assalamualaikum
    nunggu ilham neh?atau lagi sibuk?
    wassalam

    • kaisnet mengatakan:

      Waalaikumsalaam

      Alhamdulillah, beginilah yang namanya saudara saling memberi motivasi, mengingatkan dan mengingatkan

      Okeee, trim.sudah saya postingkan “POLA DASAR ALAM SEMESTA” maaf ya kang ABu mungkin gak sesuai dengan yang diharapkan heee,.. heeee. he

      SALAM UKHUWAH

  14. Bahari Van Basten mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,,,
    sebutkan peran islam terhadap perkembangan ipa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: