Bentrokah Agama dan Sains?

Dalam artikel terdahulu yang berjudul Pemberontakan pada Tuhan Pencipta Alam Semesta tersebut bahwa Sains sebagai produk manusia telah menafikan peran Tuhan dalam penciptaan Alam Semesta, Tuhan yang pension dari pekerjaannya dan tidak punya pekerjaan lagi.
Sekarang marilah kita mempelajari peran masing-masing antara sains sebagai produks manusia dan agama sebagai produks Tuhan.

Dua pandang yang saling bertentangan terkadang bahkan sering ditampilkan Sains dan Agama dalam melihat satu persoalan di alam semesta ini. Keduanya sama-sama memiliki argumen yang berbeda bahkan saling menafikan satu dengan lainnya. Munculnya konflik antara sains dan agama terjadi pada abad pertengahan, manakala otoritas gereja menjatuhkan hukuman pada Galileo Galilei pada tahun 1633 karena mengajukan teorinya Copernicus bahwa bumi dan planet-planet berputar mengelilingi matahari yang dikenal dengan teori heliosentris dan menolak teori dari Ptolomeus yang didukung oleh otoritas ilmiah Aristoteles dan otoritas gereja yang menyakini bahwa bumi merupakan pusat alam semesta (geosentries).
Manusia tidak bisa menerima dua pandangan tersebut sekaligus,mereka harus memilih heliussentries yang merupakan pandangan sains ataukah geosentris yang merupakan pandangan Gereja (Agama). Ini adalah suatu delema yang harus dipilih. Jika memilih Heliussentris maka konsekwensinya akan dianggap murtad dan melawan agama, sedangkan jika memilih geosentris maka akan terjadi pengingkaran terhadap suatu kenyataan alamiah tentang alam semesta.
Perbedaan mendasar yang sangat terasa, seakan tidak dapat di damaikan. Agama berawal dari keyakinan dan resisten terhadap perubahan, bersandar pada keimanan dan dogmatis serta bersifat subyektif dan emosional, sedangkan sains berawal dari keraguan dan setiap saat bisa mengalami perubahan dan selalu menguji hipotesis dan teorinya melalui pengalaman maupun eksperimennya, serta bertumpu pada fakta yang diamati dan bersifat obyektif rasional.
“Kita harus menerima tafsir harfiah atas Al-Kitab jika ada teori ilmiah yang terbukti secara tak terbantahkan” kata Galileo yang dianggap melawan gereja (agama) saat itu.

Newtonpun menjelaskan mengapa semua planet mengelilingi matahari?, menurutnya semua planet bergerak dengan orbit ellips mengelilingi matahari sebagai akibat adanya dua gerakan yang tidak setara, pertama adalah gerakan lurus ketika tata surya terbentuk dan kedua adalah gerakan matahari akibat gaya berat. Dengan demikian Newtonpun membuktikan bahwa hukum yang sama mengenai benda-benda yang bergerak berlaku di mana-mana diseluruh alam semesta. Dengan demikian dia mengesampingkan kepercayaan abad pertengahan bahwa ada satu perangkat hukum untuk langit dan perangkat lain untuk bumi. Pandangan dunia heliossentris telah menemukan penegasan dan penjelasan finalnya.
Ketika Newton telah membuktikan bahwa beberapa hukum alam berlaku dimana-mana diseluruh alam semesta,orang mungkin berfikir bahwa dengan cara itu dia akan merusak kepercayaan pada kekuasaan Tuhan. Namunketeguhan Newton sendiri tak pernah tergoyahkan,dia menganggap hukum alam sebagai bukti adanya Tuhan yang maha besar dan maha kuasa .

Dikemudian hari Ahli matematika Prancis Laplace mengungkapkan pandangan mekanistik yang ekstrim dengan suatu gagasan : “ Jika akal pada suatu saat tertentu dapat mengetahui posisi dari seluruh partikel materi, maka tidak ada yang tidak dapat diketahui, dan masa depan dan masa lalu akan terbuka lebar didepan mata mereka”. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi telah ditetapkan sebelumnya “telah tertulis di bintang-bintang “ bahwa sesuatu akan terjadi. Pandangan inilah yang dinamakan pandangan Deterministik.

Penemuan teknologi cloning dan rekayasa genetika juga memicu pro dan kontra, Dr. Ian Wilmut sang pelopor cloning yang sukses dengan cloning domba Dolly, memperingatkan agar tidak dilakukan pada manusia,karena hal itu dianggap sangat berbahaya dan tidak ada alasan yang kuat untuk mencobanya.
Abdelmuti Bayyoumi, ulama Al-Azhar,mengeluarkan pendapat bertepatan dengan keberhasilan sejumlah pakar genetik Taiwan yang mengklon delapan ekor babi langka, yang menurutnya penelitian itu harus dihentikan, karena secara ideology dan etika akan menyebabkan hal-hal yang dilarang oleh hukum islam, bukannya membawa manfaat bagi manusia.

Reaksi dunia rata-rata negative
Perancis menuding cloning manusia sebagai hal yang tak terpikirkan.
Sekjen Dewan Eropa menganggapnya tak bisa diterima.

Terlepas dari persoalan diatas, jika gen manusia dipandang sebagai sumber alami , bukan mustahil kalau suatu generasi memiliki orang tua yang sama. Misalnya Alberrt Einstein, pakar teori relativitas tersebut kembali dan menjelaskan alam,mungkinkah kita menolak teknik tersebut?
Albert Einstein memiliki pandangan yang sangat terkenal, yaitu “ilmu tanpa agama lumpuh dan agama tanpa ilmu buta”. Pandangan ini membawa konsep integrasi anta ilmu (sains) dan agama. Tanpa agama sains akan kehilangan inspirasi-inspirasi baru untuk berkembang, demikian agama tanpa ilmu akan tertutup dan eksklusif. Menurutnya agama dan sains adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena saling mendukung satu sama lain.dalam diskusinya dengan Murphy dia mengatakan “ berbicara tentang spirit yang memberikan kabar investigasi saintifik modern,saya berpendapat bahwa semua spekulasi prima yang ada dalam dunia sains bersumber dari perasaan religious yang terdalam, dan tanpa perasaan semacam itu semua investigasi sainstifik tidak akan berubah. Saya juga yakin,perasaan religious semacam ini, yang sangat terasa pada investigasi sainstifik hari ini, adalah satu-satunya aktivitas religious yang kreatif di abad kita ini.” keteraturan alam yang luar biasa baginya telah menimbulkan kekaguman yang mengacu pada konsep religious.

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang dilangit dan apa yang dibumi semuanya, (sebagai rahmat) dariNya. Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”

“Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmatNya? Apakah disamping Allah ada Tuhan? Maha tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan”.

32 Responses to Bentrokah Agama dan Sains?

  1. abu hanan mengatakan:

    maaf,pertamax dulu aja,,,
    belum baca………ngantuk banget
    wassalam

  2. hindin mengatakan:

    Tentang kloning, mengapa Ian Wilmut sendiri menyatakan seperti itu? Atau mengapa Sekjen Dewan Eropa menyatakannya tidak bisa diterima?
    Saya setuju dengan pernyataan Fritjof Capra dalam “The Tao of Physics” bahwa sains tidak butuh agama. Agama juga tidak butuh sains. Tapi manusia membutuhkan keduanya.

  3. kaisnet mengatakan:

    Ian Wilmut Ilmuwan Roslin’s Institute menegaskan, kloning pada manusia amat mengejutkan karena jumlah kegagalan yang tinggi dan kematian pada bayi yang baru lahir. Kloning pada binatang menunjukkan adanya kelemahan. Dolly, mamalia pertama yang berhasil dikloning terbukti menderita arthritis pada usianya yang masih muda.Sedangkan Sekjen Dewan Eropa menyoroti pada segi etis dan legalnya teknologi kloning ini.
    Mungkin pandangan kita tentang Agama dan Sains sedikit berbeda, aku setuju apabila Manusia membutuhkan Agama dan Sains. Sedangkan Antara agama dan sains saya kok sependapat dengan Einstein apabila keduanya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
    Agama akan menjadi inspirasi dalam mengkontruksi sains sedang sains akan membawa Agama yang mistik menjadi logis dan realistis.

  4. abu hanan mengatakan:

    assalamu alaikum…
    Menurut saya,kloning merupakan pemaksaan terhadap unsur yg tdk bisa dipaksa (entah dalam biologi apa namanya) hanya saya berpikir demikian seperti angin yang diberi warna atau berusaha menghasilkan angin dalam skala besar–maksudnya mampu merubah iklim/cuaca–(agak susah cari analog terdekat).
    Sains tidak butuh agama adalah bisa dibenarkan jika memandang dari segi pengembangan sains.Misal,dari 1+1=2 berkembang menjadi aljabar (meski terkadang agama memberi isyarat/tantangan pada sains seperti ayat2 penciptaan manusia dan tanah yang bergerak).Namun agama–dalam beberapa tempat seperti keberadaan malaikat,bentuk dosa/pahala–tidak membutuhkan sains karena ada wilayah pada sisi kejiwaan manusia yang bernama yakin (sbg rumah dogma).
    @kaisnet
    penjelasan utk “..agama yg mistis menjadi logis,,” gimana bro?
    salam

  5. kaisnet mengatakan:

    Yang saya maksud sains akan membawa agama yang mistis menjadi logis adalah agama lebih bisa diterima dengan menggunakan akal sehat bukan sekedar keyakinan saja atau keyakinan yang dikuatkan dengan akal, kita ambil contoh pemindahan singgasana ratu bilqis dari negeri saba ke kerajaannya Nabi sulaiman dalam waktu sekejab ini adalah hal yang susah diterima akal saat itu, tetapi bisa dijadikan acuan dan landasan bagi ekplorasi pengiriman jarak jauh atau teleportasi. Pernahkan kita merasa aneh dengan mesin fak? mesin yang mampu memindahkan suatu obyek ketempat yang jauh dalam waktu singkat.
    Dengan demikian kita semakin yakin bahwa peristiwa di jaman Nabi sulaiman tersebut benar terjadi, bukan sekedar cerita.

  6. abu hanan mengatakan:

    assalamualaikum…
    pemindahan singgasana pada masa nabi sulaiman saya kira bukanlah sesuatu yang menakjubkan pada masa itu karena para pejabat/menteri nabi sulaiman juga sudah mengetahui mukjizat beliau bicara dgn hewan,namun pemindahan singgasana adalah menakjubkan bagi orang2 pada masa Al Quran diturunkan.
    salam😉

  7. kaisnet mengatakan:

    Waalaikumsalaam….
    Saya tidak mengatakan menakjubkan, cuma susah diterima akal. Andai itu mudah diterima akal banyakkan yang bisa melakukannya, tapi kenyataannya kan orang sholeh saja yang dapat melakukan dengan sekejab, Jin saja butuh waktu yang agak lambat. yang jelas disitu kan ada pesan ilmiahnya untuk orang-orang selanjutnya.
    Pernahkah kita berfikir mukjizat itu bisa terjadi?, terjadinya bagaimana? (andai kita lepas dari kehendak Allah SWT)

  8. abu hanan mengatakan:

    salamullah
    mukjizat=peristiwa di luar nalar yg bertentangan dengan kodrat alam tanpa merusak tatanan ekosistem/lingkungan sekitar.
    mukjizat = pesan ilmiah utk belajar tentang alam
    dari pengertian pertama maka lepas dari kehendak adalah mustahil.
    salam

  9. kaisnet mengatakan:

    Walaikumsalaam,
    Jika mukjizat=pesan ilmiah untuk belajar tentang alam, apakah sains tidak butuh agama?
    jika teknologi kloning bisa membuat kopiannya Einstein misalnya, mengapa sebagaian mereka tidak percaya pada hari kebangkitan? dan beranikan mereka mengatakan Maryam perempuan yang nakal karena melahirkan Nabi Isa tanpa ayah?
    Jika adanya teleportasi kuantum, apakah pemindahan singgasana ratu bilkis merupakan cerita mistis saja, tidak logis?.
    Jika adanya Handphon yang sering kita gunakan, ingatkah kita kepada malaikat Jibril sang pembawa berita jika kita menggunakannya?.
    Jika kita mengenal dimensi ekstra, masih adakah yang tidak percaya pada alam Ghoib?
    Dengan demikian, Apakah agama tidak butuh sains?
    salam

    • abu hanan mengatakan:

      maka dari itu saya berpendapat = Sains tidak butuh agama adalah bisa dibenarkan jika memandang dari segi pengembangan sains.Tetapi perkembangan sains pada abad2 terakhir lebih banyak terilhami dari “mukjizat (Al Quran)= pesan ilmiah utk belajar tentang alam”.
      Jika pada akhirnya,manusia tidak dapat “memetik” kesimpulan pada agama/tidak beriman maka “kemampuan memetik” adalah berbicara mengenai wilayah hidayah Allah.
      Hubungan Sains dan agama saya pikir ada pada dua jalur antara saling membutuhkan dan saling tidak membutuhkan.mau tapi malu dan malu tapi mau utk saling mengakui padahal keduanya dapat saling melengkapi.
      salam

  10. anang nurcahyo mengatakan:

    tulisan menarik. makasih udah di share..

  11. hindin mengatakan:

    Saya pikir kita perlu menelaah segi sejarah berbagai konflik antara agama dengan sains. Yang paling terkenal dalam Kristen adalah konflik antara Gereja Katolik dengan Galileo. Newton sendiri menyembunyikan keyakinan aslinya (bukan Kristen) bahkan dari teman seasramanya (yang kemudian menjadi pendeta) agar tidak konflik dengan Gereja Anglikan Inggris. Dalam Islam bukan tidak ada konflik. Sebelum tahun 1924, para Ulama begitu bebas mengeksplorasi pandangan keagamaan mereka. Islam (saat itu) begitu terbuka sehingga lahir berbagai aliran Fiqih. Hingga di Indonesia NU menyatakan sebagai penganut empat mazhab dalam Fikih. Kebebasan mengeksplorasi itu adalah watak sains. Namun ketika Muhammad bin Abdul Wahhab yang dibekingi Ibnu Saud menguasai Makkah, semua kebebasan itu diberangus. Hanya ada tafsir tunggal atas Al-Qur’an dan Hadits. Tiada lagi kebebasan menganut berbagai aliran mazhab Fiqih. Ini tentu watak agama totaliter yang berlawanan dengan sains.

    Dalam pada itu berbagai perkembangan dalam bidang Fisika Kuantum ternyata sejajar dengan konsep Agama. Sejajar dalam hal ini bukan berarti Agama mengkonfirmasi sains atau sains mengkonfirmasi agama. Artinya sesungguhnya sains dan agama sebenarnya tidak saling bertentangan, namun keduanya berkembang sendiri-sendiri. Tidak ada ketergantungan, bahkan tidak saling mempengaruhi satu sama lain. Karena itu sains tidak butuh agama dan agama tidak butuh sains. Einstein sendiri, walaupun pernyatannya sering merujuk pada ketuhanan, namun dia sendiri seorang atheis.

  12. kaisnet mengatakan:

    Alhamdulillah, diskusinya semakin mengerucut.
    Aku sependapat jika antara agama dan sains tidak ada konflik, dan konflik antar keduanya akan terjadi manakala agama mengintervensi sains seperti yang terjadi pada Galelio.
    Agama Einstein selalu jadi perdebatan Ateiskah atau Yahudikah dia. Einstein sendiri menamakan agamanya sebagai agama kosmis, yaitu agama yang membangun konsep ketuhanannya melalui penyelidikan terhadap alam.keteraturan alam yang luar biasa baginya telah menimbulkan kekaguman yang mengacu pada konsep religius, ia menolak konsep Tuhan yang personal tetapi ia mengakui Tuhan yang impersonal.
    Andai Sains dan Agama sejajar berarti keduanya tidak akan pernah bertemu? sesuai dengan konsep dua garis yang sejajar dia tidak akan pernah bertemu walaupun dalam satu titik. he…he..he.

  13. Hindin mengatakan:

    Berdasarkan bacaanku Ko, Einstein lahir dari keluarga Yahudi pada saat masyarakat Prussia dijangkiti anti-semitisme. Hingga keluarganya harus hidup berpindah-pindah. Perjalanan religiusnya juga begitu, mula-mula Yahudi, namun berkembang menjadi ateis (atau agama kosmis itu) seiring dengan perkembangan intelektualnya. Pernyataannya: “The most incomprehensible thing of the universe is that it is comprehensible” yang kubaca saat kita di Malang dulu mungkin berhubungan dengan pernyataan “agama kosmis”-nya itu.

    Agama dan sains sejajar artinya antara keduanya secara substansi tidak bertentangan namun keduanya tidak saling tergantung dan tidak saling mempengaruhi. Katakanlah ada perbedaan “daerah.” Sains berada pada daerah “kebenaran objektif” sementara agama berada pada daerah “nilai kebenaran,” sesuai hadits “innama buitstu li utammima makarimal akhlaq”. Pada koordinat bola, garis sejajar bisa juga bertemu Ko. Jika kita tarik dua garis sejajar tegak lurus ekuator, kedua garis akan bertemu di kutub, ya kan? Jadi antara sains dan agama masih mungkin ketemu. Tapi sampai sejauh ini apa yang kubaca seringkali masih bersifat othak athik gathuk

  14. kaisnet mengatakan:

    Oke….
    Komentar-komentar dari teman-teman semakin menambah pengetahuanku..
    mungkin agama dan sains bagaikan dua sejoli yang sedang berpacaran, sang perempuan (sains) masih malu-malu mengatakan pada sang kekasihnya (agama) “bahwa engkau benar” dan dan sang Tampanpun akan mengatakan “hanya engkau yang mengatakan bahwa aku ini benar” he…..he….he..
    pada hakekatnya keduanya adalah produks Tuhan. Agama diturunkan melalui Nabi pilihanNya untuk umat manusia dan sainspun diberikan melalui orang-orang yang yang mau memikirkan dan merenungkan Alam semesta ini yang juga merupakan ayat-ayat yang tidak tertulis, tak perduli dia islam, yahudi, nasrani, budha, hindu, ataupun agamanya bahkan atheispun asal mau merenungkan Alam semesta ciptaanNya.
    Karena mereka berasal dari yang satu merekapun mungkin akan bersatu (bertemu).
    terima kasih…..

  15. Samaranji mengatakan:

    Kalao menurut pemahamanku sih gini,
    Dari agama lahirlah sains dan filsafat,,,
    Dan kini, akibat bujuk rayu syaithon sains cenderung bernafsu membuktikan kebenaran agama dalam ranah materialist, seringkali sains bertanya pada “BAGAIMANA (alam tercipta)”
    Sedangkan filsafat juga demikian halnya, akibat bisikan syaithon pun menjadi cenderung meragukan kebenaran agama dari sisi spiritualist, itulah mengapa filsafat sering berbicara “MENGAPA (alam tercipta)”

    Wallahu a’lam

    Sugeng sonten…
    Wassalamu’alaikum…

  16. abu hanan mengatakan:

    assalamualaikum@ ALL
    @samaranji
    mengapa dan bagaimana bisa ada pihak yang disalahkan dalam hubungan agama-sains-filsafat?saya khawatir akan ada hubungan seperti telur-ayam.adakah penjelasan saudaraku?
    salam

    salamullah alaika wa alaa osamah
    salam

  17. kaisnet mengatakan:

    Yang saya pikirkan sekarang dari pendapatnya mas SAMARANJI justru lebih dulu mana adanya agama dan filsafat. artinya mulai kapan petunjuk Allah SWT pada umatnya itu disebut agama sekalian dengan kitab sucinya. dan kapan filsafat mulai ada mungkin sejak jamanya filsafat THALES.
    atau kalimat “dari agama lahirlah sains dan filsafat” makudnya “agama menginspirasi sains dan fisafat ?”.

  18. Samaranji mengatakan:

    @ Abu Hanan
    @ Kaisnet

    Wa’alaikumsalam warohmatullah…

    Agama dah diturunkan oleh Allah Subhanahu TAbaroka Wa TA’ala kepada NAbi Adam a.s. MAsihg ingat ayat ttg bagaimana Allah SWT mengajarkan “nama2” kepada NAbi Adam a.s ??? itulah yang sy pahami bahwa Agama sudah mencakup ilmu segalanya, dengan agama semua ilmu apapun akan mudah terkuak, itulah mengapa orang2 beragama akan selalu dan selalu menghormati ilmu baik yg sifatnya empiris maupun metafisis, baik sains maupun filsafat, baik yg sifatnya materialist maupun yg spiritualis.

    Ilmu agama itu dah komplit plit sejak awal diajarkan untuk Nabi Adam a.s, N,,A,,M,,U,,N…. seiring perkembangan peradaban manusia, yg terkadang peradaban itu dihancurkan oleh-Nya karena akibat kesombongan manusia, MAKA terkadang ilmu tsb seperti hilang, ada sesuatu yg hilang bersama hilangnya suatu peradaban (terutama kejadian banjir bandang Nabi Nuh a.s) Maka banayak ilmu yg kini menjadi “missink”. Hal ini membuat seolah2 sains dan filsafat bukan cabang ilmu dari agama. Padahal awalnya SAINS diajarkan agar manusia mengenal Allah SWT berdasarkan “sign” (tanda-tanda) empiris, sedangkan FILSAFAT diajarkan untuk mengenalnya berdasarkan “sign” (tanda-tanda) metafisis.

    Syaithon yg sejak semula sudah iri-dengki dan hendak menjerumuskan Adam a.s dan anak cucunya tentu berusaha dengan segala cara untuk melakukan pendistorsian, menghembuskan keragua-raguan. Manusia yg dikaruniai akal dan nafsu tentu akan mudah terombang-ambing dalam kebimbangan.

    Intinya, NAbi Adam a.s sudah diberi pengetahuan komplit sebagai bekal menjadi khalifah fil ‘ardh. Sejarah panjang anak cucu nabi adam a.s (yg dilalui dng penuh coba’an, ujian, bahkan terkadang azab)lah yg membuat pengetahuan tsb tercerai berai. Dan ini dimanfa’atkan syaithon untuk melakukan tipu dayanya. MAsalah sangat kompleks, kawan.

    Demikian yg saya pahami dan yg dpt sy share di sini, maaf lama ga silaturrahmi, abisnya mas kaisnet jarang kasih koment di tempatku sih, jadinya lupa deh kalo punya saudara seperjuangan di sini,,, he,,,he,,,.

    Wassalamu’alaikum.

    • kaisnet mengatakan:

      Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saudaraku semua……
      Saya sependapat apabila sains sebenarnya sudah di ajarkan oleh Allah SWT. kepada Nabi Adam as.yaitu dengan mengajarkan nama benda-benda sehingga Nabi Adampun bisa menyebutkan nama-nama benda itu sehingga dia lebih kompetitif jika dibandingkan dengan malaikat dan syetan.
      Makanya saya sering mengatakan pada anak-anak bahwa Nabi Adam juga di ajari fisika oleh Allah SWT. dan di dalam Al-Qur’an sendiri juga banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk merenung-renungkan alam semesta untuk memahami kebesaranNya.
      Kepada Debu semesta dan Alfatehah, sebenarnya saya sering mampir ke sana cuma saya belum berani beri komentar disana karena kajian agamanya sangat mendalam sehingga saya baca, mencoba memahami dan merenungkan artikel-artikelnya, termasuk di webnya Mas Hanifa aduuuh, ngeri aku baca artikelnya.
      salam……

      • Samaranji mengatakan:

        Mas Kaisnet,,,
        Saya juga ngeri (dan geli) kalo berkunjung ke blognya beliau (Abah Haniifa). Namun setidaknya sy mulai memahami bahwa sesesat apapun manusia, sekeras apapun usaha syaithon menjerumuskan manusia, sy percaya masih banyak saudara2 non islam yg mencari kebenaran itu, sy percaya masih banyak pengikut2 islam sempalan yg mukhlis dalam mencari kebenaran. Percayalah jika kita ber-mujahadah (sungguh2) mencari kebenaran dan selalu berharap ridho dan ampunan Allah Ta’ala makak kita akan mendapatkannya.
        .
        .
        . btw, ijin baca2 dulu yach…

        Wassalamu’alaikum.

    • abu hanan mengatakan:

      salamu alaikum
      @samaranji
      ehm,jadi kasihan saya sama setan….
      menurut saya,justru hambatan paling besar adalah dari manusia sendiri.setan hanya berfungsi sebagai “tukang kipas”.Kenapa demikian?==”( Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia:` Kafirlah kamu `, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:` Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam `.(QS. 59:16)
      Dan inilah yang saya khawatirkan bahwa kita akan dengan mudah menuduh setan sebagai faktor utama penyebab pembangkangan padahal kita telah mengetahui bahwa setan adalah musuh yang oke dan tokcer bagi manusia.Musuh yang oke tetapi tidak nyata adalah munafikin.
      wassalam

  19. Filar Biru mengatakan:

    Menarik sekali judul di atas. hmm….kukira Agama lebih dahulu deh di ajarkan oleh Allah dan sains kemudian atau mengikuti. Sebab waktu aku kecil dahulu aku di ajarkan sholat dahulu sama emak hihihi baru si ajarkan berhitung.

    telingaku waktu masih orok di dengarkan azan sama bapak hihihihi dan waktu kita di dalam perut ibu Allah dan kita juga sudah berjanji.

    itu seh pengalamanku aja, entahlah sama kalian aku nggak tahu, tapi yang jelas agama dan ilmu itu sebenarnya seperti dua mata pedang yang akhirnya bertemu pada satu titik.

    Agama mengajarkan kepada kita Tidak Ada Tuhan Selain Allah, sedangkan ilmu membuktikan kebenaran itu.

    Agama mengajarkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan ilmu juga membuktikannya.

    Agama mengatakan bahwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha ilmu membuktikan saya sholat 5 kali sehari semalam. gitu aja repot.

    Agama mengkatakan bahwa asal manusia dari air yang terpancar dari tulang sulbi, ilmu membuktikan bahwa air mani memang benar2 terpancar kok hihihih

    SALAM

    • Samaranji mengatakan:

      He,,,he,,,

      • abu hanan mengatakan:

        assalamualaikum
        tantangan buat ilmuwan sekarang adalah
        “MELAKUKAN PENELITIAN UNTUK MEMBUKTIKAN APAKAH ISTRI KITA/MANTAN USTRI KITA MEMILIKI SEMACAM DNA ATAU apapun istilahnya UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA HAWA DARI RUSUK ADAM as BUKAN DOGMA”
        Siapa yang berani mulai???
        atau tantangan buat mas Samaranji,Mas Filar,mas Kaisnet untuk menulis atau meneliti tentang kehebatan sains di masa lalu (gak usah jauh2,lantai kaca nabi Sulaiman aja atau alat komunikasi nabi Nuh dengan anaknya == sesuai bahasa terjemahan “‘..nuh berbicara pada anaknya yang berada di tempat terpencil””” == bayangkan ditengah badai,ombak,angin ada hubungan komunikasi seperti itu.
        Siapa berani mulai??Saya,,,,,,,,emh,maaf tambah gak mudeng blas>>>>>>
        wassalam

      • Filar Biru mengatakan:

        @Abu Hanan

        Kalau kita meneliti permasalahan yang ada pada zaman nabi taruhlah apa yang ada pada sulaiman. seperti istananya yang lantainya dari kaca. Ilmu Pengetahuan zaman sekarang tidak mampu membuktikan bahwa istana sulaiman terbuat dari kaca yang licin. Entalah di suatu saat nanti. Istana Sulaiman terbuat dari kaca yang licin itu berita yang di wahyukan kepada Rasulullah SAW.

        Sebab yang namanya kaca usianya tidak lama, akan cepat hancur di telan zaman. lagian yang membuat istana sulaiman terdiri dari golongan manusia dan jin. sedangkan teknologi jin siapa yang tahu? seperti yang sering kita dengar dan baca seumpama UFO. Apakah UFO pesawat Jin?

        Untuk masalah Nuh dengan anaknya, ketika Nuh menyeruh kepada anaknya agar naik ke kapal apakah ketika itu pas terjadi badai?

      • abu hanan mengatakan:

        assalamu alaikum
        @FB
        jika membaca terjemahan ayat yang menjelaskan hubungan komunikasi antara Nabi Nuh dgn anaknya,saya pikir komunikasi terjadi pada masa badai terjadi…
        tentang lantai kaca,saya tidak menuntut kita meneliti secara arkeologi atau gimana atau apapun istilahnya tetapi saya menilai bahwa ayat tentang lantai kaca itu adalah tantangan buat manusia masa sekarang dan masa mendatang utk belajar.Hanya saja==terlepas dari peran jin pada saat pembuatan lantai tsb pada masa Sulaiman as== jika lantai tersebut secara sains bisa dibuktikan kebenarannya (melalui pengukuran ketebalan,daya angkut eh sori daya muat, ukuran tiang penyanggah dll) harusnya secara teori sains mampu melakukan pekerjaan demikian.Perkara manusia sekarang bisa membuat/tidak the point adalah kisah nabi2 pada masa lalu bukan dogma.jadi iman kita ada nilai lebih (bukan iman buta asal percaya,kecuali ada pertanyaan yang mengarah ke wujud tuhan secara materi atau dosa kenapa kok bukan diwujudkan secara langsung atau pahala kenapa tidak berwujud rumah dll)
        salam ukhuwah

      • Filar Biru mengatakan:

        @Abu Hanan

        mencermati apa yang anda katakan sesungguhnya apa yang di firmankan oleh Allah di dalam Al Quran ada yang mampu kita buktikan dengan teknologi ada juga yang mustahil kita buktikan dengan teknologi. Contoh ketika dialog antara Allah dengan Malaikat dalam permasalahan pencitpaan Adam sekaligus sebagai Khalifah di bumi. Juga permasalahan lahirnya Nabi Isa As. dll yang sejenisnya. Ada yang patut kita imani ada juga murni sebuah teknologi.

        Permasalahan Nuh dengan anaknya tidak mampu kita buktikan dengan sains akan tetapi mampu kita buktikan dengan iman, sebab masalah ini memang wilayah iman. Ketika Nuh berkata kepada anaknya saya yakin situasi ketika itu sedang terjadi badai hebat, seluruh alam mengeluarkan air, dari tanah dari langit. Bukti bahwa anak Nuh tidak mau naik ke atas kapal sebab dia mendengar seruan Bapaknya, Itulah sebabnya firman Allah turun kepadanya bahwa anak yang di air tersebut bukanlah termasuk anak Nuh melainkan orang kafir.

        SALAM

  20. kaisnet mengatakan:

    Hanya sebuah kata untuk menjawabnya

    INSYAALLAH.
    ………………………..

  21. abu hanan mengatakan:

    assalamualaikum @ ALL
    inilah tantangan bagi orang yang mengaku Islam untuk belajar dan membuktikan bahwa Allah menurunkan Al Quran dan mengutus Rasulullah saw dengan ketepatan komposisi antara sains dan dogma dalam membangun iman..Dialog Allah dgn malaikat pada masa pra Adam adalah dogma,namun ilmu yang diajarkan pada Adam adalah sains.Teknologi pada masa nuh as bisa dijelaskan secara sains dengan segala teori –asal bukan teori togelometric– dan dogma biarlah tetap berada pada bahasa yang digunakan Nuh as dan lain-lain….
    salam ukhuwah

  22. Dimas Airlangga mengatakan:

    Makasih buat infonya, saya masih 13 tahun jadi masih kurang paham sama isinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: