Pemberontakan pada Tuhan Pencipta Alam Semesta

Sains modern telah bergerak menuju deisme yaitu suatu faham yang beranggapan Tuhan berada jauh dari luar alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakan, Tuhan tidak memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaannya. Peraturan-peraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna. Tuhan diibaratkan dengan tukang yang mahir membuat jam, setelah jam itu selesai dibuat ia tidak membutuhkan si pembuatnya lagi. Jam itu berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah tersusun dengan rapi. Faham deisme sepakat bahwa Tuhan Esa dan jauh dari alam, serta maha sempurna, sepakat bahwa Tuhan tidak melakukan interfensi pada alam lewat kekuatan supernatural. Tuhan tidak terlibat dengan pengaturan alam. Dia menciptakan alam dan memprogramkan perjalanannya, tetapi Dia tidak menghiraukan apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi pada alam. Alam dibiarkan berjalan sendiri dan Tuhan hanya melihatnya dari kejauhan sampai alam ini rusak dengan sendirinya. Tuhan pensiun dari pekerjaannya dan tidak punya pekerjaan lagi.
Sejak awal kelahirannya sains modern telah terang-terangan memploklamirkan perlawanannya terhadap doktrin religius gereja dan wahyu tidak mendapat tempat dalam kontruksi sains. Sains modern hanya berurusan dengan aspek-aspek realitas alam semesta yang dapat dipelajari dengan metode ilmiah.
Konsep fisika Newtonian telah diperluas hingga menjadi metafisika materialisme yang mencakup segala sesuatu, mekanika klasik dan termodinamika dipandang mampu menggambarkan semua fenomena fisis yang terjadi di alam semesta. Fisika Newtonian menegaskan determinismenya yang mengklaim jika bahwa jika kita mengetahui posisi dan kecepatan suatu partikel dialam kita akan mampu memprediksi kejadian masa depan. Pandangan yang didukung Pierre Laplace ini semakin meneguhkan deisme, ini ditunjukkan saat Laplace menjawab pertanyaan Napoleon. Suatu ketika Napoleon menemui Laplace dan berkata “ Tuan Laplace, orang-orang mengatakan kepada saya bahwa Anda telah menulis buku besar mengenai system alam semesta dan Anda tidak pernah menyebut Sang Pencipta. Laplace memberi jawaban yang terkenal “Saya tidak membutuhkan hipotesis itu”. Jika sekedar hipotesisi peran saja tidak diperlukan, maka jelas bahwa sains modern mengesampingkan Tuhan dalam penciptaan alam semesta.

Ada pula Stephen Hawking, fisikawan asal Inggris yang berusaha memadukan berbagai teori, seperti teori relativitas yang dikembangkan Einstein, teori evolusi, mekanika kuantum, dan lubang hitam, dalam upayanya tersebut, ia mengemukakan pandangan baru tentang proses pembentukan alam semesta, yang dituliskan dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design itu, Hawking benar-benar melepaskan proses pembentukan alam semesta dari konsep ajaran agama.
Proses pembentukan Bumi, disebut dia, dikarenakan adanya hukum gravitasi. “Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya.
Penciptaan yang spontan itu merupakan alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, dan mengapa kita ada. Jadi, “Tidak perlu meminta Tuhan untuk merancang dan mengatur terjadinya alam semesta,” kata Hawking sebagaimana dikutip The Guardian.
Dalam pandangan Hawking, proses pembentukan alam semesta pada awalnya merupakan sebuah black hole (lubang hitam) yang membentuk singularitas dengan kepadatan yang sangat besar, yang mencapai jutaan, bahkan miliaran, ton per cm kubik. Titik singularitas dijelaskan sebagai suatu titik dengan fungsi matematika yang tidak bisa didefinisikan. Fungsi itu menjadi divergen menuju nilai tak terhingga. Titik singularitas tersebut memiliki kekuatan gravitasi yang sangat besar sehingga cahaya pun tidak mampu keluar darinya dan kembali lagi ke pusaran singularitas. Pada saat kepadatan atau kemampatan itu tidak dapat ditoleransi lagi, meledaklah titik singularitas itu menjadi berbagai unsur yang pada akhirnya membentuk unsur-unsur alam semesta, seperti bintang dan planet.
Pendapat terbaru Hawking ini menunjukkan bahwa ia telah keluar dari pandangan sebelumnya pada agama. Sebelumnya, dalam A Brief History of Time, Hawking berpendapat kontroversial lain. “Jika kita menemukan suatu teori yang lengkap, itu akan menjadi puncak kemenangan nalar manusia, untuk itu kita perlu tahu pikiran Tuhan,” tulisnya. Namun, dalam buku terakhirnya itu. Hawking justru mendekonstruksi teori lssac Newton tentang campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam Semesta. Adapun pendapat Hawking yang menafi kan peran Tuhan dalam pembentukan alam semesta, Thomas Djamaluddin, ilmuwan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menganggap hal itu merupakan pendapat pribadi dan belum menjadi pendapat bersama kalangan ilmuwan kosmologi. Menurut Thomas, dalam konteks keilmuan, teori yang dikemukakan Hawking tidak menjadi masalah. “Saya bisa katakan bahwa cara bekerja Tuhan berbeda dengan cara bekerja manusia,” tandasnya.

Sains sebagai produk manusia telah membawa pandangan dunia tertentu para kreatornya, klaim tentang kepensiunan Tuhan, dan ketiadaan Tuhan oleh para ilmuwan atheis yang menyadarkan argumennya pada eksperimen dan teori-teorinya telah membawa pada rasionalisme sekuler yang memberontak kepada Tuhan.

Sungguh Tuhan tidak pensiun ataupun mati, melainkan Tuhan sibuk. Mestinya tugas sainslah menyingkap kesibukan Tuhan.

“setiap waktu Dia dalam kesibukannya” (QS. Al-Rahman [55]:29)

“Yang kepunyaanNya kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagiNya. Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. Al-Furqan [25]:2)

13 Responses to Pemberontakan pada Tuhan Pencipta Alam Semesta

  1. syamsul fitri mengatakan:

    Kebenaran berupa Ilmu/sains, pasti datang, yaitu ilmu/sain akan diturunkan oleh Allah SWT bertahap, dan diberikan kpd orang/manusia yg dipilihnya (Allah yg menentukan kpd siapa ilmu itu akan di turunkan), maka dari itu manusia diberikan AKAL oleh Allah guna memikirkannya. Petunjuk, kisah, dllnya sdh diberikan oleh Allah melalui WAHYU NYA kpd manusia2 pilihannya yaitu NABI. Wahyu Allah yg sdh disempurnakan yaitu Al Qur’an. Jadi semua petunjuk tentang ILMU/SAINS sdh ada di Al Qur’an, mungkin saat ini blm dibukakan oleh NYA.

  2. komunitas pendidikan mengatakan:

    good artikel om….thanks..😀

  3. kaisnet mengatakan:

    Terima kasih atas kunjungannya

  4. osamah mengatakan:

    saya berpikir saat baca alinea pertama artikel diatas…
    deaisme kok mirip pada injil kitab kejadian (entah ayat nomor berapa) bahwa tuhan menciptakan alam dalam 6 masa dan istirahat pada masa ke 7…..Kesimpulan saya bahwa paham ini adalah pengulangan dari pemikiran kaum yahudi sesat (karena pasti ada yang lurus pada jaman dahulu) kemudian menumpang sains modern…apa begitu?hanya dugaan saja…
    salam

  5. kaisnet mengatakan:

    Sorry Boss, saya belum menemukan literatur untuk itu.
    Mudah-mudahan Allah SWT. segera memberi petunjuk pada kita semua.

  6. osamah mengatakan:

    (1) Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.
    (2) Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
    (3) Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
    (4) Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, —
    (( Kitab Kejadian 2:1-4 )) tercantum dalam Perjanjian Lama (yang merupakan salinan Taurat — menurut Kristen — ).

  7. kaisnet mengatakan:

    Waduuuh, malu aku dengan temanku yang satu ini, pengetahuannya tentang agama bukan main mendalamnya.
    sampai-sampai tiap aku kunjungi rumahnya di http://www.isyfatehah.blogspot.com aku gak berani komentar soalnya tulisannya runtut sekali, hampir gak ada celah.

    Kalau di Al-Qur’an Tuhan. itu sibuk (walau gak bisa digambarkan), kalau di perjanjian lama tuhan kok pensiun (berhenti dari pekerjaannya.
    Apa Tuhannya Berbedan yaaaa? eehhmmm.

  8. osamah mengatakan:

    alhamdulillah,tuhan tetap sama hanya penafsiran dan jalan logika tiap manusia yang berbeda..
    apalah arti saya dibandingkan dengan ilmiahnya rumah ini….
    saya simpulkan bahwa deaisme dijiwai oleh pemikiran yang mirip dengan kitab kejadian seperti komen diatas.Entah mana yang lebih dahulu antara deaisme atau kitab kejadian…

  9. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum.

    Salam kenal,,,
    Ya Allah Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang2 yg telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan jalan mereka yg dimurkai dan bukan jalan mereka yg sesat. Aamiin.

  10. kaisnet mengatakan:

    Waa’laikumsalaam Wr. Wb.
    Terima kasih atas kunjungannya. Amiiin.
    Ilmu (sains) tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu (sains) akan lumpuh. Sains untuk dipelajari apa adanya dan agama untuk di amalkan apa adanya.

  11. osamah mengatakan:

    saya sedang menantikan srtikel anda tentang 30 adam…
    wassalam

  12. meilupiana mengatakan:

    Al qur’an itu sains…
    Hnya logika manusianya yg blum bsa mncerna…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: