gaya fundamental di alam semesta

Empat gaya fundamental di alam semesta

Sejak dulu para fisikawan telah mengetahui bahwa ada empat macam gaya yang fundamental di jagat raya yang jangkauan kerja dan kekuatannya berbeda satu sama lain.

Pertama, gaya terlemah dengan jangkauan kerja yang sangat jauh, yaitu gaya gravitasional. Gaya ini mengatur keselarasan gerak system tata surya,bintang-bintang, galaksi-galaksi dan kosmos.

Kedua, gaya yang jauh lebih kuat dari gaya gravitasional yaitu elektromagnetik . Gaya yang mempunyai jangkauan kerja yang cukuppendek ini mengatur keselarasan gerak dalam gugusan molekul dan atom.

Ketiga, gaya nuklir kuat atau gaya inti yang mengikat proton dan neutron dalam atom.

Keempat, gaya nuklir lemah yang menjamin keselaran gerak-ion-ion penyusun inti atom dan kemampatan ion itu sendiri.

Berhubungan dengan hal tersebut, Abdus Salam melakukan sebuah penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antara gaya nuklir dan listrik. Sebenarnya, bentuk energy nuklir lemah identik dengan bentuk energy elektromagnetik, unifikasi keduanya mengasilkan teori terpadu, yakni teori medan elektro lemah terpadu (unified electroweak field theory). Pada energy rendah gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah merupak dua gaya yang terpisah, tetapi pada energy tinggi yakni pada energy di atas 100 GeV keduanya merupakan satu gaya. Keberhasilan ini mendorong unifikasi lebih lanjut yakni unifikasi antara elektro lemah dan interaksi (nuklir )kuat dan menghasilkan teori Kemanunggalan Agung (Grand Unified Theory) dengan tingkat energi terjadinya unifikasi adalah 10 16 GeV, sampai saat ini gaya gravitasi belum berhasil dipadukan dengan ketiga gaya elektromagnetik, nuklir lemah dan nuklir kuat.Pada tahun 1973, kebenaran teori Abdus Salam didukung oleh para Peneliti dari Laboratorium Riset Nuklir Eropa (CERN), Jenewa yang menemukan adanya interaksi arus netral, yang merupakan bagian pokok dari prediksi teori Abdus Salam (Teori Medan Terpadu). Sebenarnya, teori ini sudah dikenal sejak tahun 1960-an.Sementara itu, teori elektromagnetik antarpartikel telah ada sejak tahun 1940-an. Pada tahun 1978, para peneliti dari Pusat Akselator Linier Stanford, Amerika Serikat, melakukan sejumlah penelitian tentang gaya elektromagnetik dan nuklir. Hasilnya, mereka sependapat dengan teori Abdus Salam.
Sesungguhnya, teori yang dikemukakan oleh Abdus Salam adalah sejenis teori inti yang menjelaskan penyatuan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah dengan perbandingan 1:4000. Beberapa waktu kemudian sejumlah penelitian dilakukan oleh para fisikawan di laboratorium Amerika Serikat, Uni soviet dan Eropa, dan hasilnya membenarkan teori Abdus Salam secara eksperimental. Rentetan penelitian dan pembenaran tersebut membuktikan bahwa Abdus Salam adalah bagian dari reli yang sangat panjang untuk menemukan bagaimana cara menyatukan gaya gravitasi dan gaya elektronuklir.
Penghargaan Nobelpun diterima Abdus Salam yang merupakan bukti kepandaian dan keahlian seorang muslim di bidang sains.
Gagasan unifikasi interaksi elektromagnetik dan interaksi gravitasi ini menjadi impian Einstein’s serta perburuan ahli fisika teori dunia. Para ahli fisika pada umumnya digerakkan oleh impian Einstein tersebut bahwa gaya-gaya yang terpisah pada wilayah energy rendah sesungguhnya merupakan satu gaya terpadu pada tingkat energy tertentu, ini diinspirasi dengan fakta empiris tentang elektromagnetik Maxwell yang menyatukan listrik dan magnet yang pada mulanya merupakan fenomena terpisah.
Hal ini sangat berbeda dengan motivasi Abdus Salam, walaupun punya keyakinan yang sama dengan Einstein, tetapi Abdus Salam tidak menyandarkan pada fakta empiris , tetapi pada basis keyakinan keimanannya yakni tauhid. Prinsip tauhid menyatakan bahwa segala sesuatu termasuk keempat gaya di alam semesta berasal dan merupakan manifestasi dari yang satu yaitu Allah SWT.

“Abdus Salam adalah seorang professor dari Pakistan yang merupakan Ilmuwan muslim pertama peraih Nobel. Abdus Salam lahir pada tanggal 29 Januari 1926 di Pakistan, Beliau meraih gelah Doctor of Phylosophy (Ph.D) dalam bidang fisika teori dari Universitas Cambrige, Inggris pada usia 26 tahun. Dua tahun sebelumnya Beliau memenangkan Smiith’s Prize karena beberapa karya ilmiahnya dianggap memeiliki nilai tinggi. Sejak tahun 1957-1982, Abdus Salam telah menerima gelar Doctor of Science Honoris Causa dari delapan belas universitas yang berada di berbagai Negara. Sejak tahun 1957, Abdus Salam bekerja sebagai Guru fisika teori di universitas London. Pada tahun 1964 Beliau menjabat sebagai direktur Internastional Centre for Theoritical Physics di Trieste”.

About these ads

3 Responses to gaya fundamental di alam semesta

  1. abu hanan mengatakan:

    assalamualaikum

    waduh,,,,butuh waktu buat simak yang satu ini,,,,,,,,,,,,,,,
    tolong,,
    tolong,,
    tolong,,
    bingung,,
    bingung,,
    tetapi tulisan ini semakin membawa saya ke medan magnet dan gravitasi dengan dasar seperti pada artikel saya.

    • kaisnet mengatakan:

      Waalaikumsalaam,

      Selamat berteorilah KANG ABU, Kang Abu mencoba memadukan antara gaya magnet dengan gaya gravitasi yaaaa?

      Ini sesuatu yang bukan tidak mungkin, Lawong semua dari Yang Satu (Allah SWT) pasti bisa disatukan kembali INSYAALLAH, Yaaaa,betapa luasnya ilmu Allah SWT.

      SALAM UKHUWAH

  2. tomo mengatakan:

    sebagai catatan perbaikan, abdul salam bukanlah seorang muslim. dia adalah seorang ahmadiyah. jadi belum pernah ada seorang muslim pun yg telah menerima hadiah nobel.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: